Profil Fraksi Partai Demokrat DPR RI

Profil Fraksi Partai Demokrat DPR RI

Pendahuluan

Partai yang resmi berdiri pada 9 September 2001 ini, merupakan partai baru yang sepanjang sejarah perpolitikan di Indonesia berhasil memenangankan kontestasi Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden secara telak pada Pemilu 2004. Lawanya pun bukan main-main, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang merupakan partai senior berhasil dikalahkan oleh Partai Demokrat.

Selain itu, dalam sejarahnya kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu 2004 tercatat sebagai kemenangan terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden pertama yang melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Partai Demokrat erat citranya dengan keluarga Yudhoyono, dimana Susilo Bambang Yudhoyono pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat selama 2 Periode kepemimpinan, saat ini kursi Ketua Umum diduduki oleh anak sulungnya yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kepemilihannya dilakukan dalam kongres yang berlangsung 3 Hari tersebut.

Agus Harimurti Yudhoyono resmi terpilih secara aklmasi meskipun sempat muncul isu konflik internal antara dirinya dengan saudara kandungnya sendiri mengenai pencalonannya dalam Kongres Ke V Partai Demokrat pada 15 Maret 2020 di Jakarta Convention Center (JCC).

Keterwakilan

Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat berhasil menjadi pemenang Pemilu bahkan Susilo Bambang Yudhoyono saat itu juga terpilih sebagai Presiden melalui pemilihan langsung oleh rakyat.

Jumlah Perolahan Kursi dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pemilu Total Kursi Total Pemilih Urutan Presentase
2004 57 Kursi 8.455.225 Suara 5 7,5%
2009 150 Kursi 21.703.137 Suara 1 26,4%
2014 61 Kursi 12.728.913

Suara

4 10,4%
2019

 

54 Kursi 10.876.507

Suara

7 7,7%

Jika dilihat berdasarkan data diatas, perolehan kursi dan suara partai Demkrat mengalami penurunan pasca 2 periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dari Presiden, hal ini terjadi karena pada saat itu banyak terjadi ditemukannya kader-kader partai Demokrat yang bermasalah, seperti pada kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Hambalang hingga suap Sea Games 2011. Disinyalir banyak menyeret sejumlah kader-kader di jajaran pengurus internal yang pada akhirnya berimbas pada turunnya kepercayaan masyarakat dengan partai ini.

Pesebaran Anggota F-Demokrat dalam Komisi DPR RI 2019-2024

Kom

I

Kom II Kom III Kom

IV

Kom V Kom VI Kom VII Kom VIII Kom IX Kom X Kom XI
5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Berdasarkan data yang ada, pesebaran anggota fraksi DPR-RI dari Fraksi Demokrat jika dilihat berdasarkan jumlah tiap komisi secara keseluruhan sama yaitu 5 Orang dalam setiap komisi, hanya pada komisi II jumlah anggota partai Demokrat hanya memenuhi 4 kursi saja.

Jenjang Pendidikan Anggota F-Demokrat

  SMA S1 S2 S3
Laki-Laki 2 14 22 6
Perempuan 6 4

Dari data diatas, terlihat bagaimana representasi perempuan dalam partai Demokrat jika dilihat berdasarkan latar belakang pendidikannya, anggota perempuan yang diusung oleh partai Demokrat memiliki kemampuan dan jenjang pendidikan yang tinggi mulai dari sarjana hingga magister.

Profil Fraksi PKS DPR RI

Profil Fraksi PKS DPR RI

Pendahuluan

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah satu saksi sejarah dalam penumbangan masa Orde Baru. Dulunya sebelum PKS dikenal sebagai Partai Keadilan (PK) yang saat itu vocal menyuarakan adanya reformasi namun mengalami perubahan nama karena mengalami kegagalan dalam pemenuhan ambang batas dalam 2 kali penyelenggaraan pemilu berturut-turut dengan perolehan suara hanya 1,36% dari total keseluruhan perolahan suara nasional. Kemudian tepat pada 3 Juli 2003 Partai Keadilan (PK) resmi berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sendiri dikenal sebagai partai politik yang erat kaitannya dengan gerakan islam berbasis massa kampus dan cendekiawan, hal itu muncul akibat dari reaksi atas politik pemerintahan di masa Orde Baru. PKS resmi berdiri pada 20 April 1998, sejak saat itu gerakan politik yang dilakukan partai ini banyak dilakukan di wilayah kampus-kampus Universitas di Indonesia baik Universitas berbasis Agama Islam maupun tidak. Melalui penyebaran aktivitas dakwah yang banyak dilakukan di kampus-kampus, PKS mampu meraup suara kalangan anak muda terdidik yang memiliki kesamaan paham dan prinsip akan kaidah-kaidah islam dalam memimpin. Hal tersebut dibuktikan dari catatan yang ada dalam Pemilihan Kepala Daerah 2005 (Pilkada). PKS merupakan partai yang paling gencar saat itu menempatkan tokoh-tokoh anak muda sebagai kandidat yang diusung dalam kontestasi Pilkada 2005.

Selain basis massa di dalam negeri yang dimiliki, di luar negeri juga terdapat kader PKS, tercatat ada sebanyak 7.000 Orang kader yang tersebar di 22 Negara. Untuk jumlah kader terbanyak ada pada negara Mesir, Turki dan Palestina. Ini merupakan satu-satunya partai nasional yang memiliki kader terbanyak di luar negeri.

Keterwakilan

 Jumlah Perolahan Kursi dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pemilu Total Kursi Total Pemilih Urutan Presentase
1999 7 Kursi 1.436.565 Suara 7 1,3%
2004 45 Kursi 8.325.020 Suara 6 7,3%
2009 57 Kursi 8.204.946 Suara 4 7,8%
2014 40 Kursi 8.480.204 Suara 7 6,7%
2019 50 Kursi 11.493.663 Suara 6 8,2%

Pada Pemilu 1999 Partai Keadilan Sejahtera harus melakukan stembus accord atau biasa dikenal sebagai kesepakatan kotak suara. Stembus accord ini ditujukkan untuk berkoalisi dengan partai lain untuk memanfaatkan suara sisa yang tidak habis dibagi dalam perhitungan tujuannya sebagai pemenuhan dan pemanfaatan perolehan suara secara optimal dengan dipergunakan untuk partai lain. Jika dilihat dari data diatas, dapat dibaca dalam sepanjang penyelenggaraan Pemilu yang diikuti oleh Parati Keadilan Sejahtera, perolehan suara yang mereka dapatkan relatif stabil dan tidak ada penambahan suara yang signifikan.

Pesebaran Anggota F-PKS dalam Komisi DPR

Kom I Kom II Kom III Kom IV Kom V Kom VI Kom VII Kom VIII Kom IX Kom X Kom XI
4 4 5 5 5 4 5 4 5 6 3

Berdasarkan data diatas dapat kita lihat secara kuantiti, bahwa pesebaran anggota dalam komisi di DPR RI Tahun 2019-2024 jumlahnya relatif sama, Hanya saja di Komisi X Anggota dari fraksi PKS lebih banyak dengan selisih satu anggota dibanding jumlah di komisi lain. Untuk menyeimbangkan data dari sisi kuantitas anggota DPR RI dari fraksi PKS yang sudah dijelaskan, adapun data dari sisi kualitas anggota DPR fraksi PKS jika dilihat dari latarbelakang pendidikan setiap anggota, Adapun lengkapnya sebagai berikut:

Jenjang Pendidikan Anggota F-PKS

SMA S1/Diploma S2 S3
Laki-Laki 1 19 8 14
Perempuan 1 2 2 3
Profil Fraksi Partai Golkar DPR RI

Profil Fraksi Partai Golkar DPR RI

Sejarah

Partai Golkar merupakan wajah baru dari Golongan Karya di masa Orde Baru. Sejarah panjang berdirinya partai golkar berafiliasi dengan Sekber Golkar (Sekretariat Bersama Golongan Karya) yang saat itu baru baru berdiri, tepatnya di masa akhir pemerintahan Soekarno. Tujuan berdirinya Sekber Golkar saat itu adalah sebagai partai tandingan yang dibentuk untuk berhadapan dengan Partai Komunis Indonesia dalam segala bentuk aktivitas dan kegiatan politik di Indonesia. Awal mula istilah golongan karya di digagas oleh Soekarno sebagai upaya merevolusi konflik kekuasaan di pemerintahan saat itu, namun hal itu tidak kunjung di eksekusi hingga didahului oleh Angkatan darat yang kemudian lebih dahulu banyak membentuk organisasi-organisasi golongan fungsional yang kemudian pula menjadi politis.

Angkatan darat pada saat itu mengawali dengan didirikannya Badan Kerja Sama (BKS) yang mewadahi himpunan Angkatan Darat dengan kelompok-kelompok pemuda, petani dan jurnalis. Disusul pada tahun 1960 hingga 1965 Angkatan darat giat mengembangkan organisasi-organisasi yang tujuannya terlihat sangat politis karena ingin menandingi Partai Komunis Indonesia dalam hal kekuasaan dan simpati masyarakat pada saat itu, hingga pada tumbangnya Orde lama menjadikan jalan Sekber Golkar kunci kekuatan Orde Baru dalam menjalankan pemerintahan. Hal ini terbukti dari kemenangan yang diraih Sekber Golkar dalam setiap penyelenggaran pemilu di masa Orde Baru, tak tanggung-tanggung Sekber Golkar menang telak 4 Kali berturut-turut dalam Pemilihan Umum tersebut. Kejayaan Sekber Golkar tidak hanya berhenti setelah Orde Baru tumbang. Pasca reformasi lahir pada tahun 1998, banyak yang mengira Sekber Golkar akan hanyut dalam masa, namun Sekber Golkar mampu bertahan dan berganti nama menjadi Partai Golkar yang hingga saat ini masih terus muncul menjadi deretan pemenang dalam setiap penyelenggaran Pemilu yang ada.

Loyalis Sekber Golkar yang kini berubah menjadi Partai Golkar tersebut kini banyak diambil alih oleh para pengusaha, bukan suatu hal yang tabu bilamana dalam perpolitikan Indonesia campur tangan pengusaha dalam setiap penyelenggaran kontestasi politik adalah benar, mungkin saja itu yang salah satu bentuk Partai Golkar yang ada sejak Orde Lama hingga Reformasi masih tetap bisa survive hingga saat ini.

Keterwakilan

Partisipasi Partai Golkar dalam penyelenggaran Pemilihan Umum (Pemilu) sudah dilakukan sejak tahun 1971 hingga saat ini. Jika dilihat secara kuantiti, dalam penyelenggaran Pemilu 1971 hingga 1997 Partai Golkar mendapatkan kursi hamper 80%. Hal itu disinyalir akibat hanya ada 2 partai besar di masa Orde lama dan juga Orde baru, efeknya berimbas pada jumlah suara Golkar saat itu yang masih tinggi.

Jumlah Perolahan Kursi dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pemilu Total Kursi Total Pemilih Presentase
1999 120 Kursi 23.741.749 Suara 22,4%
2004 129 Kursi 24.480.757 Suara 21,5%
2009 106 Kursi 15.037.757

Suara

14,4%
2014

 

91 Kursi 18.432.312

Suara

14,7%
2019

 

85 Kursi 17.229.789 Suara 12,3%

Namun, jika dilihat dalam 5 periode terakhir penyelenggaran Pemilu, Partai Golkar saat ini mengalami penurunan secara terus menerus meskipun satu dekade ini Partai Golkar selalu menjadi partai pro pemerintah.

Pesebaran Anggota F-Golkar dalam Komisi DPR RI 2019-2024

Kom

I

Kom II Kom III Kom

IV

Kom V Kom VI Kom VII Kom VIII Kom IX Kom X Kom XI
8 7 8 8 7 8 8 8 7 7 8

Berdasarkan data diatas dapat kita lihat secara kuantiti, bahwa pesebaran anggota dalam komisi di DPR RI Tahun 2019-2024 jumlahnya relatif sama yaitu 7 sampai 8 Orang yang duduk di setiap Komisi yang ada.

Jenjang Pendidikan Anggota F-Golkar

  SMA S1 S2 S3
Laki-Laki 2 24 34 6
Perempuan 7 11 1

Berkaca dari data yang ada, dapat dilihat bahwa representasi kader perempuan partai Golkar yang duduk dalam kursi legislatif saat ini memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Dimana secara garis besar anggota perempuan fraksi Golkar yang memiliki jenjang pendidikan Magister adalah 11 Orang, ini jumlahnya lebih besar daripada partai yang lain.

Profil Fraksi Partai Nasdem DPR RI

Profil Fraksi Partai Nasdem DPR RI

Pendahuluan

Partai Nasional Demokrasi atau banyak dikenal sebagai Partai Nasdem, resmi berdiri pada 26 Juli 2011. Saat itu, Partai besutan Surya Paloh ini merupakan satu-satunya partai baru yang lolos dalam penyelenggaraan pemilu 2014. Belum genap satu Dekade partai ini berdiri, banyak konflik internal terjadi. Isu Konflik di tataran elit partai yang berujung pada pemecatan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPW DKI Garda Pemuda pada tahun 2013. Meskipun merupakan partai baru, Nasdem mampu membawa kader-kadernya untuk duduk dalam kursi legislatif dengan akumulasi suaranya yang naik di setiap penyelenggaraan pemilihan umum.

Keterwakilan

 Jumlah Perolahan Kursi dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pemilu Total Kursi Total Pemilih Urutan Presentase
2014 36 Kursi 8.402.812 Suara 8 6,7%
2019 59 Kursi 12.661792 Suara 5 9,%

Jika diperhatikan angka kursi yang didapatkan Partai Nasdem pada awal ikut dalam penyelenggaran pemilu, angkanya cukup tinggi jika dibandingkan dengan partai baru lain yang turut dalam sepanjang penyelenggaraan pemilu yang ada.

Perbandingan Jumlah Laki-Laki dan Perempuan

Anggota F-Nasdem di DPR

Laki-laki 41 Anggota
Perempuan 18 Anggota

Jenjang Pendidikan Anggota F-Nasdem

JENIS KELAMIN SMA S1 S2 S3
Laki-Laki 4 16 3 4
Perempuan 1 11 1

Melihat data yang ada, dapat disimpulkan bahwa anggota Fraksi Partai Nasdem memiliki kekurangan Sumberdaya Manusia yang memiliki latarbelakang pendidikan yang tinggi, dimana terlihat berdasarkan profil anggota yang ada paling besar merupakan anggota dengan jenjang karier Sarjana Strata 1.

Pesebaran Anggota F-Nasdem dalam Komisi DPR

Komisi I II III IV V VI VII VIII IX X XI
Laki-Laki 4 5 4 4 4 4 4 3 6 6
Perempuan 1 1 2 1 1 1 1 1 5 3

 

Berdasarkan data diatas, memperlihatkan bahwa anggota fraksi Nasdem banyak menempati kursi pada komisi X dan komisi XI. Dengan detail kursi anggota perempuan ada pada komisi IX.

Profil Fraksi Gerindra DPR RI

Profil Fraksi Gerindra DPR RI

Pendahuluan

Partai yang resmi didirikan pada tahun 2008 ini digawangi oleh Prabowo Subianto. Awal mula gagasan berdirinya Partai Gerindra sendiri sudah bergeliat sejak 2007 dimana hal itu muncul dari obrolan antara Fadli Zon dengan Hashim Djojohadikusumo yang saat itu merasa prihatin akan ketertindasan yang dialami oleh masyarakat selama ini akibat para kapital besar yang tidak bertanggung jawab. Dari gagasan awal yang dilakukan muncul keinginan untuk membuat perubahan dan arah baru dalam dunia perpolitikan Indonesia guna mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi yang lebih baik. Gagasan tersebut tidak hanya berhenti disitu saja, Hasyim saat itu melanjutkan pembahasan terkait partai baru dengan Prabowo Subianto. Proses panjang saat itu, dialami secara batin oleh keduanya. Melihat momentum pemilihan umum 2009 segera berlangsung, menjadikan keyakinann Prabowo saat itu sebagai langkah yang baik untuk dengan berani mendirikan partai baru dengan Hasyim dan rekannya agar nantinya partai mereka dapat berkontribusi dalam pengimpementasian nilai-nilai Pancasila. Hal itulah kemudian meyakinkan Prabowo untuk turut mendirikan partai baru sebagai bentuk kontribusinya untuk negara kesatuan republik Indonesia.

Tak menunggu lama, Partai Gerindra resmi di deklarasikan tepat pada 6 Februari 2008. Meskipun dalam hal ini Partai Gerindra merupakan partai baru yang lahir dimasa reformasi namun kekuatan massanya, kini mengantarkan Partai Gerindra menjadi partai ketiga terbesar di Indonesia setelah PDIP dan juga Golkar. Secara garis besar tidak banyak sejarah dari partai yang berlambang kepala burung garuda ini, sebab pendiri Partai Gerindra merupakan orang lama di partai yang secara resmi keluar dan mendirikan partai sendiri dengan kata lain orang-orang dalam Partai Gerindra saat itu bukanlah orang baru dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Keterwakilan

Sepanjang berdirinya Partai Gerindra hingga saat ini, Partai Gerindra telah turut melalui 3 periode masa pelaksanaan Pemilihan Umum, mulai dari: Pemilihan Umum 2009, Pemilihan Umum 2014 dan Pemilihan Umum 2019. Dari presentase perolahan kursi yang didapatkan Partai Gerindra konsisten mengalami kenaikan setiap pelaksanaanya.

Jumlah Perolahan Kursi dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pemilu Total Kursi Total Pemilih Urutan Presentase
2009 26 Kursi 4.646.406 Suara 8 4,5%
2014 73 Kursi 14.760.371 Suara 3 11,8%
2019 78 Kursi 17.594.839 Suara 2 13,5%

Pesebaran Anggota F-Gerindra dalam Komisi DPR

Kom

I

Kom II Kom III Kom

IV

Kom V Kom VI Kom VII Kom VIII Kom IX Kom X Kom XI
7 7 8 6 7 7 7 7 7 7 7

Berdasarkan data diatas, memperlihatkan bahwa anggota fraksi Gerindra banyak menempati kursi pada komisi III. Jika dilihat lebih detail berdasarkan gender, dari total keseluruhan komisi yang ada 14 Anggota Perempuan Fraksi Gerindra banyak menempati Komisi IX dan Komisi X sedangkan 64 Anggota Laki-laki Fraksi Gerindra untuk penyebaranya paling banyak ada pada komisi III dengan jumlah keseluruhan di Komisi tersebut adalah laki-laki.

Perbandingan Jumlah Laki-Laki dan Perempuan Anggota F-Gerindra di DPR

Laki-laki 64 Anggota

 

Perempuan 14 Anggota

 

Jenjang Pendidikan Anggota F-Gerindra

JENIS KELAMIN SMA S1 S2 S3
Laki-Laki 3 22 34 5
Perempuan 2 5 6 1

Profil Fraksi PDIP DPR RI

Profil Fraksi PDIP DPR RI

Partai politik yang digawangi oleh trah Soekarno ini dikenal sebagai partai yang memiliki keterikatan dan keterkaitan yang kuat dengan ideologi marhaenisme. Menelisik dari sejarah berdirinya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sendiri merupakan lanjutan dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang pada saat itu mengalami dualisme kepemimpinan antara Soerjadi dengan Megawati. Dinamika politik yang terjadi ditubuh internal maupun eksternal PDI saat itu memunculkan berbagai konflik arus bawah dan arus atas. Campur tangan pemerintahan orde baru saat itu dalam setiap langkah politis yang dilakukan oleh PDI makin memperkeruh keadaan, bagaiamana tidak pemerintah saat itu turut dalam mengatur kongres yang akan dilaksanakan PDI dalam menentukan ketua partainya.

Setelah melalui proses yang panjang dan rumit akhirnya Megawati dinyatakan sebagai Ketum DPP PDI periode 1993-1998 secara de facto dalam Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar pada 2 hingga 6 Desember 1993 di Surabaya, Jawa Timur. Megawati kemudian dikukuhkan sebagai Ketum PDI secara de jure dalam Munas PDI yang diselenggarakan pada 22 hingga 23 Desember 1993 di Jakarta. Terpilihnya Megawati saat itu tidak menyurutkan semangat Soerjadi membuat kepemimpinan tandingan dengan menggandeng 16 anggota DPP PDI serta 28 pengurus DPP PDI di daerah untuk segera menggelar kongres tandingan yang pelaksanaanya dilakukan di Kota Medan. Pemerintah kemudian mengukuhkan dan mengakui kepemimpinan Soerjadi sebagai peserta pemilu 1997 dengan secara sah menerima 11 pengurus PDI hasil Kongres Medan pada 25 Juli 1996.

Melihat putusan tersebut, masa pendukung Megawati kemudian melakukan penyerbuan kantor DPP PDI. Tidak terima atas campur tangan pemerintah akan permasalahan internal partai mereka memunculkan peristiwa yang dikenal sebagai “Kuda Tuli”. Pasca peristiwa berdarah tersebut, dualisme kepemimpinan PDI tetap ada, Soerjadi dengan kepemimpinannya yang sah dimata pemerintah dan Megawati beserta jajaran pengurusnya yang tetap mengakui diri sebagai pengurus PDI yang sah pula, meskipun mereka harus berpindah-pindah tempat dengan segala aktivitasnya yang tidak dilarang namun cukup ketat dipantau oleh pemerintah saat itu. Ditengah besarnya keinginan masyarakat untuk melakukan reformasi politik pemerintahan orde baru, PDI di bawah kepemimpinan Megawati kian berkibar dan semakin banyak mendapatkan dukungan sedangkan eksistensi PDI dibawah kepemimpinanan Soerjadi makin kian meredup jika dilihat dari jumlah perolahan suara PDI dalam pemilu 1997 hanya mendapatkan 11 kursi saja.  Pasca lengsernya Soeharto, Megawati berinisiatif untuk PDI dibawah kepemimpinannya dapat ikut dalam pemilu 1999, namun hal tersebut terhalang oleh masih sahnya pengakuan yang diberikan pemerintah terhadap PDI kepemimpinan Soerjadi meskipun pemerintahan orde baru telah berganti.

Berdasarkan Undang Undang Nomor 3 Tahun 1999 mengatakan bahwa tidak boleh partai peserta pemilu memiliki nama ataupun lambang yang sama. Karena hal tersebut maka PDI pimpinan Megawati memutuskan untuk menambah kata “Perjuangan” atau yang saat ini lebih dikenal dengan PDIP dan secara sah pada tanggal 1 Februari 1999 PDI kepemimpinan Megawati beralih menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Nama itu kemudian disahkan oleh Notaris Rakhmat Syamsul Rizal dan dideklarasikan di Istora Senayan, Jakarta pada 14 Februari 1999.

Keterwakilan

Pada pemilu 1999, PDIP berhasil memperoleh jumlah kursi yang fantastis dan didaulat sebagai pemenang pemilu saat itu, bahkan Megawati juga terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi KH. Abdurahman Wachid atau Gus Dur yang terpilih dalam sidang paripurna MPR sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih 1999- 2004. Keberhasilan PDIP dalam pemilu tersebut bukanlah sesuatu hal aneh jika melihat loyalitas pendukung kepemimpinan Megawati Soekarno Putri. Sepanjang keikutsertaanya dalam penyelenggaran pemilu PDIP selalu mendapatkan perolahan kursi yang cukup besar dibanding partai besar lainya, hanya saja pada pemilu 2009 PDIP dalam sejarahnya memperoleh kursi sedikit yaitu 95 kursi saja.  Namun seiring berjalannya waktu jumlah perolahan kursi PDIP naik hingga terakhir pada pemilu 2019 kemarin.

Perolahan Kursi PDIP Dalam Penyelenggaraan Pemilu

Pada periode ini, dari 80 dapil di tingkat DPR RI, PDIP memiliki wakil di 54 dapil (67 %). Sisanya, di 26 dapil (33 %), tidak ada wakil dari PDIP.

Sebaran Penempatan Komisi Anggota Fraksi PDIP

Dari data diatas menunjukkan bahwa pesebaran anggota fraksi PDIP dalam Komisi DPR RI, paling banyak menempati komisi VI yang membidangi sektor industri, investasi, dan persaingan usaha dengan jumlah anggota 13 orang anggota.

Perbandingan Jumlah Laki-Laki dan Perempuan

Anggota Fraksi PDIP di DPR

Jika melihat secara keseluruhan, angka menunjukkan bahwa Fraksi PDIP mampu mendorong jumlah keterwakilan perempuan di lesgilatif dengan angka pencapaian sebesar 20%, meskipun jika dibandingan angka tersebut masih terpaut jauh dengan jumlah keterwakilan laki-lakinya.

Berdasarkan diagram diatas menunjukkan bahwa jika mengukur kualitas anggota fraksi PDIP yang duduk dikursi legislative, sebagian besar merupakan orang-orang pilihan yang memiliki jenjang pendidikan paling banyak adalah sarjana (57 Anggota), magister (47 Anggota) dan Profesor (16 Anggota), sisanya merupakan anggota dengan jenjang pendidikan SMA dan juga diploma.